Category

cerpen (8) curahan hati (5) english (3) lirik (2) music (2) puisi (14) review (1)

Sunday, 16 May 2010

Sepotong Kue Cokelat Untuk Mae

Sekarang sudah pukul sebelas lewat sedikit. Kurang dari satu jam lagi ulang tahunnya akan berakhir. Mae sedih membayangkan perayaan ulang tahun tanpa Mama. Sedih kalau harus meniup lilin seorang diri. Sedih karena tak ada orang yang menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuknya. Tapi ia masih bisa tersenyum melihat sepotong kue coklat teronggok di depannya. Ditemani oleh satu atau dua ekor semut yang belum berhasil dibunuhnya pakai jari telunjuk.

Sore tadi, ketika hujan baru saja turun, ia berlari ke warung seberang rumah. Tanpa pelindung, tubuhnya dibiarkan basah terkena runtuhan air hujan. Disakunya ada uang dua ribu tiga ratus rupiah. Itu tabungan sepanjanag hidupnya yang telah berhasil ia keluarkan dari dalam celengan. Ia menemukan banyak pilihan kue disana. Tapi ia hanya sanggup membeli kue coklat paling kecil yang harganya seribu delapan ratus, jadi ia masih punya sisa lima ratus rupiah untuk dikembalikan lagi ke celengan ayam.

Ia gembira mendapatkan kue coklat favoritnya. Didekapnya erat-erat pada tangannya agar tidak terkena tetesan air hujan. Ia kembali ke rumah dengan rambut dan pakaian yang basah. Tapi kue itu tetap kering tak tersentuh hujan. Ia simpan kue itu di atas meja. Berdiri dengan mata berkaca-kaca. Entah apa yang membuatnya terharu. 

Mama… cepatlah pulang. 

Ini adalah ulang tahunnya yang ke sembilan. Angka sembilan merupakan angka tertinggi dari deret bilangan satu desimal. Angka sembilan merupakan angka keramat. Angka sembilan dipercaya bisa membawa keberuntungan. Begitulah kata orang-orang. Tapi Mae bukan anak tertinggi di kelasnya. Ia jelas bukan anak keramat. Ia juga tidak merasa beruntung hari ini. Ia masih menunggu Mama pulang.

Seingatnya, ini pertama kalinya Mama tak kunjung pulang hingga larut malam. Biasanya Mama sudah berada di rumah paling telat pukul delapan. Menyiapkan makan malam untuk mereka berdua, lalu pergi ke alam mimpi ketika jam menunjukkan tepat pukul sembilan. Begitulah hari-hari yang selalu mereka lalui bersama. Hanya mereka berdua, Mae dan Mama.

Mae tidak pernah mengenal sosok Ayahnya. Malah saat usianya baru menginjak enam tahun, ia tidak mengerti, apa itu Ayah. Suatu waktu ia sempat bertanya pada gurunya di sekolah, ia mendapat penjelasan bahwa ayah adalah orang yang selalu mendampingi ibu, orang yang berkewajiban menafkahi keluarga . Seingat Mae, yang menafkahi keluarga adalah Mama. 

Kalau begitu, ayah juga berarti Mama . Pikirnya waktu itu. 

Tetapi kata bu guru, ayah adalah seorang laki-laki, sedangkan ibu adalah perempuan .

Mae menjadi bingung.

Lalu ia teringat akan satu hal; ia memang sering melihat beberapa laki-laki datang ke rumahnya, dan laki-laki itu mendampingi mama! Pekiknya girang.

Tapi ada begitu banyak laki-laki yang sering mengunjungi rumahnya, dan mereka selalu mendampingi mama. Sisa pertanyaan yang ada di kepalanya ia lontarkan.

“Bu guru, apakah ayah bisa berganti-ganti setiap minggunya?”

Bu guru hanya menatapnya diam.

Mae menjadi takjub pada dirinya sendiri. Inilah satu-satunya pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh gurunya.

Ketika Mae sudah tiba di rumah, ia langsung menceritakan kejadian seru yang dialaminya di sekolah. Ia menceritakan seluruh perbincangan antara ia dan bu guru. Semua ceritanya diselingi dengan tawa renyah dari mama, kadang terbahak sambil mengacak-ngacak rambut Mae.

“…dan waktu Mae menanyakan tentang ayah Mae yang selalu berganti-ganti setiap minggu, bu guru itu tak bisa menjawab! Apa berarti bu guru bodoh Ma’? Apa Mae sudah lebih pintar? Mae pintar kan Ma’?”

Senyum Mae semakin merekah, sedangkah senyum di wajah Mama telah menghilang. Mama hanya menatapnya diam. Tapi Mae tidak heran. Ini bukan pertama kalinya Mama tak bisa menjawab pertanyaannya. Aku memang anak yang pintar ! Pikir Mae girang.

Mama.. cepat dong pulang… Aku kesepian.

Sebentar lagi pukul setengah dua belas. Jarum detiknya terus menyeret diri dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri. Meninggalkan jejak pada angka di belakangnya, membuat jarum menit nyaris menyentuh angka enam. Mae ingin mengambil jam di dinding, melepaskan batu baterainya dan membiarkan jarum detik itu berhenti bergerak sampai mama pulang. Lalu ia akan memasangkan batu baterainya lagi ketika mama sudah berada disampingnya, siap untuk meniup lilin bersamanya.

Tapi tubuhnya tidak cukup tinggi untuk menggapai. Dan meja atau kursi itu terlalu berat untuk diseret dan dijadikan pijakan. Maka ia putuskan untuk membiarkan detik itu terus berlalu tanpa ampun. Tiga puluh menit lagi, harapannya untuk meniup lilin dan memakan kue bersama Mama pupus sudah.

Tiba-tiba Mae mendengar suara dan terlonjak. Matanya awas mengitari sekitar ruangan. Tak ada apa-apa disana. Ia tidak memerlukan usaha yang keras untuk melihat keseluruh ruangan. Rumahnya tergolong dalam kategori rumah-teramat-sangat-sederhana-sekali. Atapnya dari seng dan telah bolong disana-sini, membuat tetes-tetes hujan bisa terjun bebas ke lantai semen. Tempat sekarang ia duduk meringkuk beralaskan karpet usang berukuran dua ke dua .

Mae tidak melihat apapun. Ruangan memang gelap, listrik padam sedari tadi karena hujan yang tak juga berhenti. Satu-satunya penerangan hanyalah berasal dari nyala api lilin. Lilin berwarna putih yang biasa dipakai kalau rumahmu gelap. Lilin yang akan ditiupnya ketika Mama sudah tiba. 

Tapi Mama tak kunjung tiba.

Ia masih mencari-cari dalam gelap, menajamkan telinganya, menebak-nebak apakah sesuatu yang membuat suara itu masih disana. Mae tidak takut setan. Karena kata Mama, setan tidak akan menghampiri anak yang baik. Tapi itu dulu sekali waktu umurnya masih lima tahun. Ia menyesal karena tadi pagi ia tak sempat bertanya, Mama, apakah hari ini aku masih menjadi anak yang baik ?

Ia juga tidak takut sama pencuri. Tak ada satupun barang berharga yang bisa dicuri di rumah ini. Tapi dulu Mama pernah berkata bahwa Mae adalah satu-satunya hal yang paling berharga buat Mama. Ia menjadi takut kalau-kalau pencuri itu malah menculik dirinya, lalu tubuhnya dipotong-potong untuk dijadikan bakso isi cincang kalau pencuri itu tidak berhasil mendapatkan uang tebusan yang sepadan dari Mama. 

Pikirannya terus melayang ke Mama. Tadi pagi mamanya sempat berkata bahwa ia akan membelikan sebuah kue coklat kesukaannya ketika pulang nanti. Lengkap dengan lilin berbentuk angka sembilan tertancap diatasnya. Mae senang, dan sedari siang, ia terus membayangkan akan menyanyikan lagu ulang tahun, meniup lilin berangka sembilan, dan memakan kue coklat itu dengan lahap bersama mama.

Tapi kue belum juga datang. Mama pun belum pulang. Mungkin kuenya besar sekali sampai-sampai mama kesulitan membawanya. Mungkin Mama sedang berteduh karena hujan. Mungkin Mama mau memberikan kejutan. Mungkin…

Dan akhirnya Lonceng pun telah berdentang di kejauhan. Sekali… dua kali… tiga kali… dua belas kali…

Lonceng telah berhenti berdentang,
kereta kencana berubah menjadi labu, peri menjadi debu.
Mama, mama, cepatlah kau datang,
mari kita berdendang sebait lagu ulang tahun untukku.



Mama belum juga pulang .
Tak ada gunanya lagi menunggu. Mae mendesah pelan. Kekecewaannya mengganjal di tenggorokan, tak bisa ia telah bulat-bulat. Ia menatap kuenya, lalu lilinnya. Kue coklat itu terlalu kecil untuk dipasangi lilin. Meskipun lilinnya sudah mengecil karena sudah terbakar sejak lama, kue itu tetap saja lebih kecil.

Ia mengambil kue itu, menaruhnya di samping lilin, memejamkan matanya, melafalkan sebuah doa dalam hati, dan…

Fuuuuhh…

Api telah padam. Ruangan menjadi gelap pekat.

Ia menunggu. Tak ada tanda-tanda orang yang akan berseru “Kejutan!” tak ada nyanyian Selamat Ulang Tahun. Tak ada ciuman hangat dari Mamanya. Tak ada. Yang ada hanyalah sepotong kue coklat yang ia beli tadi siang. Yang ada hanyalah pekat. Yang ada hanyalah tak ada. Ia nyalakan lagi lilinnya. Apinya menari-nari di tembok kusam. Hampir separuh sisi tembok itu basah terkena rembesan air hujan dan meninggalkan bercak-bercak jamur kehitaman. Dalam gelap, nyala api itu tampak seperti sebuah tarian yang mengejek kesendirian Mae.

Mae mencomot kuenya, memasukannya ke dalam mulutnya dan mulai mengunyah. Kuenya habis dalam hitungan detik. Tak ada lagi yang tersisa selain kesepian, kesedihan, dan batang lilin yang hampir habis. Ia merapatkan tubuhnya yang menggigil karena lapar dan kedinginan. Hujan masih turun dengan gigihnya sambil diiringi angin ribut yang memecah kesunyian, membuat seng-seng bersuaraprang-prang-prang . Mae tak punya sisa tenaga untuk takut terhadap apapun. Pikirannya melayang ke Mama. Batinnya menuntut kehadiran Mama. Tubuhnya membutuhkan dekapan Mama. Tak terasa, air matanya jatuh menetes, membayangkan tentang entah apa yang mungkin terjadi pada Mama yang tak kunjung pulang.

Mama, cepatlah pulang.

Ternyata Mama tak juga pulang.

____

Malam bergeser dengan pelan. Nyanyian hujan mulai terdengar samar-samar. Mae sudah kelelahan menunggu. Kepalanya terkulai di meja ditemani oleh satu atau dua ekor semut yang terus berdatangan, tergoda oleh manisnya remah-remah kue coklat yang tercecer di meja. Batang lilin semakin mengecil dan dalam lima menit apinya padam. Mae, anak yang telah berumur sembilan tahun lebih sehari, sudah tertidur tanpa perlu menyambut kegelapan.

Sementara itu dikejauhan, kira-kira tujuh kilometer dari tempat Mae tertidur, sirine ambulans sedang meraung-raung membawa kabar.


**


Bandung, 14 May 2010 - 10:09 PM
Kado ulang tahun untuk kaka ku





*Pernah di muat di Oase Kompas

Sunday, 25 April 2010

Kata Orang...

Berawal dari obrolan ringan di YM di suatu waktu:

...
Teman: ko ga bikin note lagi?
Saya: ho'oh lagi mentok ide. Ntarlah kalo bikin pasti ditag ko  
Teman: pasti gara2 lgi brantem sma cwo'nya yah  
Saya: HAH??
Cowo yg mna yah?  
  Hehee..
Teman: haha.. Masa sma cowo sendiri lupa. Pasti saking banyaknya yah  
Saya: hahah,,bukan bingung karna kebanyakan pacar.. Nta bingung saking jomblonya     
Teman: Aahh masa sih kamu jomblo. Ga percaya ah.
Saya: kenapa musti ga percaya???
Teman: itu sih note kamu yg trahir, yg judulnya Antara Segitiga?
(waktu itu, Antara Segitiga memang judul note yg paling trahir)
Kamu dah punya cowo kan??
Saya: heheheeee  
...

Yah, kurang lebih gitu lah obrolannya. Awalnya saya ga terlalu peduli. Tapi smakin kesini ko smakin banyak obrolan serupa yg menghubung-hubungkan cerita yg saya buat dg pengalaman pribadi. Entah bagaimana rumusnya.

Kalau memang ada yg berpikir demikian, ya silakan saja. Itu hak masing-masing indivudu yg merdeka ko. Saya anggap itu sbagai suatu resiko dr apa yg telah saya tulis. Tapi disaat yg bersamaan, saya juga merasa hal sperti ini ga bisa dibiarkan berlarut-larut, trutama stelah mengguncang stabilitas personal. Maka saya merasa, sudah saatnya untuk meluruskan beberapa hal yg udah terlanjur bengkok, dan ingin menyampaikan pada kalian bahwa:

SEMUA CERITA YANG SAYA TULIS HANYALAH FIKTIF BELAKA. APABILA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH DAN ISI CERITA, SAYA JAMIN ITU SEMUA HANYALAH KEBETULAN SEMATA.


Terlepas dari itu semua, apakah cerita itu berdasarkan pengalaman pribadi (pihak lain) atau bukan, mungkin masih ada orang yg blum tahu bahwa menulis cerita adalah sebuah proses kreatif imajinatif dr seorang penulis. Pengalaman (baik pribadi maupun pihak lain) mungkin bisa dijadikan landasan untuk menyusun sebuah cerita, tapi itu bukanlah satu2nya faktor utama. Karna pengalaman saja tak akan cukup untuk membangun karakter. Perlu adanya 'bumbu2' yg disebut sbagai imajinasi dan dramatisasi agar isi ceritanya lebih 'hidup'. Tanpa bumbu2 tersebut, cerita akan berasa seperti sebuah buku diary yang--menurut saya--hanya boleh dikonsumsi oleh pribadi.

Tapi... setelah saya pikir2, saya jd bertanya-tanya sendiri, dari semua hal yg sudah saya jelaskan panjang lebar di note ini, apakah nantinya akan berhasil untuk merubah pandangan para pembaca terhadap cerita yg saya tulis?

Bisa jadi tidak.

Aah... Saya jadi merasa tolol. Kalau begitu saya memilih untuk (mencoba) tidak peduli saja, dan saya akan lebih merekatkan slogan yg slama ini saya kibarkan:


I DON'T GIV'A DAMN OF WHAT PEOPLE MAY THINK ABOUT ME!


Semoga saja slogan itu berhasil. 

**

bandung, sabtu malam yg panas sekali
24 April 2010
21:35
-kamar-

ketika saya merasa perlu untuk mengeluarkan tulisan omong kosong..

Saturday, 10 April 2010

Hujan Air Mata

Pagi itu langit kelabu. Tapi tak cukup kelabu untuk menyurutkan langkah kaki orang-orang di suatu stasiun kereta. Penunjuk waktu menunjukkan bahwa tiga puluh menit lagi kereta akan tiba. Aku masih menunggu. Bukan kereta yang aku tunggu, tetapi Arjuna.

**

Arjuna. Lelaki itu telah berhasil membiusku dengan pesonanya pada pandangan pertama. Hampir dua tahun yang lalu, aku menubruknya ketika aku sedang terjalan terburu-buru untuk menggantikan tugas jaga di Café Cinta, tempatku bekerja sebagai waitress. 

“Maaf”, ujarku.

Lelaki itu tersenyum.

Aku malah bengong.

Hari-hari berikutnya ia sering datang ke Café Cinta hanya sekedar memesan minuman favoritnya, Cappucino. Sambil menyeruput minumannya, ia sering mengajakku mengobrol dari meja pelanggan. Tempat favoritnya adalah meja sudut belakang. Kuladeni semua gurauannya dari meja kerjaku yang terletak di depan, tempat dimana pelanggan memesan minuman mereka. Kami memang tak pernah berbicara dalam kata, kami berbicara melalui rasa dan isyarat-isyarat yang hanya dimengerti oleh kita berdua. Hanya kita berdua, tak ada orang lain lagi yang mengerti bahasa kami, termasuk pak kepala Café.

Pak kepala Café sangat tidak mengerti kenapa semua minuman yang ku tuang ke dalam gelas meluber, tumpah ruah hingga terkadang membanjiri meja dengan berbagai jenis kopi dan orange juice. Hal ini membuat semut-semut menari riang gembira tetapi membuat pekerjaan ku jadi dobel melelahkan karna harus mengelap meja dan mengepel lantai setiap jamnya.

Hari berganti nama. Kami berdua terus mengirim rasa. Semut-semut menari semakin gembira. Pak kepala Café semakin tidak suka. Dan aku pun dipecat dari Café Cinta.

**

Masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum kereta datang. Hujan mulai turun. Posisiku berdiri saat ini sangat tidak melindungiku dari tumpahan air langit. Tapi aku tidak akan beranjak. Aku tidak ingin membuat Arjuna kesulitan menemukanku.

Orang-orang berteduh. Aku malah membiarkan diriku diguyur hujan. 

Arjuna, kau akan datang kan?

Aku akan menunggu.

**

Untunglah kami masih sempat bertukar nomor hp. Meskipun seperti biasanya, tak banyak yang bisa kami ungkapkan lewat kata. Kami hanya merasa.

Sampai saat itu tiba, aku perlu mengirimkan pesan yang tidak bisa aku kirimkan hanya dengan rasa. Aku perlu kata-kata yang terangkai dengan jelas, agar ia juga bisa menerima pesanku dengan jelas. Kukirim satu buah pesan singkat padanya, yang berbunyi:

Aku akan pergi ke suatu tempat yang jauh. Mungkin aku takkan pernah kembali lagi, aku tak tahu. Kalau kau mengganggap hubungan kita pantas untuk dipertahankan, datanglah ke stasiun pada Sabtu pagi. Disana kau akan menemukanku dengan balutan jaket merah marun, kuharap warna itu cukup mencolok untuk dilihat di stasiun yang padat manusia. Aku juga akan mengenakan kalung liontin yang pernah kau kasih waktu dulu. Kau masih menyimpan pasangan liontinnya kan? Kuharap kita segera bertemu. I miss you. 

Tak lama, aku menerima balasannya:

Reports:
Arjuna
7:17 PM - Delivered
 


Bukan dari Arjuna. Tapi paling tidak aku tahu pesannya telah tersampaikan. Satu hari. Dua hari. Lima hari masih saja tak ada balasan. Arjuna, apa kau sudah membaca pesanku?

Untuk lebih meyakinkan, ku kirimkan pesan yang sama disetiap malam perjumpaan kami… melalui sela-sela mimpi kami...

**

Sepuluh menit lagi. Langit masih menumpahkan airnya yang kelabu. Sebentar lagi aku akan membeku.

Arjuna, dimana kau? Apakah menurutmu warna merah marun ini menjadi kurang mencolok setelah diguyur hujan sehingga membuatmu sulit menemukanku? Arjuna, aku masih disini… menunggumu.

Aku masih ingin menunggu.

**

Hampir dua tahun kita menjalin hubungan. Tak perlu banyak kata yang dihamburkan. Kita berdua sepakat, kata hanyalah omong kosong belaka; rasa lebih bermakna. 

**

Lima menit. Hujan semakin deras.

Arjuna, kumohon cepatlah datang.

Terlambat. Kereta datang lebih cepat dari yang dijadwalkan. Kereta datang untuk membawa ku pergi ke suatu tempat, bersama angan dan mimpi kita, angan dan mimpi ku bersama Arjuna.

Ya Tuhan, lelaki itu benar-benar tak datang!!!

Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Kuhela napas dalam-dalam. Kupaksakan kakiku melangkah melewati pintu kereta. Air menetes-netes dari pakaianku yang basah. Pada saat-saat kritis seperti ini aku masih sempat berkhayal Arjuna akan datang dan kemudian menggamit lenganku, menyeretku keluar dari kereta dan memohon padaku untuk tidak pergi, memelukku lalu mencium bibirku…

Aah… seperti film india saja. Otakku sudah kacau rupanya!

Lamunan buyar dan aku terpaksa menerima fakta bahwa tubuhku di dorong-dorong oleh penumpang yang tidak sabar, bukan oleh Arjuna seperti lamunanku barusan. Keadaan ini diperparah dengan aroma dalam kompartemen yang baunya lebih dari tujuh rupa: bau keringat, lembap, anyir, koyo, atau entah bau apa lagi. Aku sedang tidak ingin menandai bau-bauan dan mendeskripsikannya pada kalian.

Aku duduk dengan pakaian super basah sampai orang-orang yang duduk disampingku melotot. Mereka pasti lebih merasa sebal daripada heran kenapa bajuku bisa sampai basah begini. Tapi toh biar saja, aku tak peduli. Aku menatap keluar menembus jendela berharap Arjuna muncul. Kereta mulai bergerak perlahan. Bagi penumpang lain, ini merupakan pertanda bahwa kereta akan membawa mereka sampai pada tujuan, tapi bagiku ini adalah pertanda bahwa kereta akan memisahkan aku dengan Arjuna. 

Aku sangat berharap ia datang, tapi ia malah tak datang. Sebagai gantinya, suara dalam kepalaku lah yang datang. Suatu hal yang paling tidak aku harapkan kedatangannya. 

Lihat kan, dia berkhianat!

“Tidak, kau salah kepala. Dia tidak berkhianat, dia tak akan pernah berkhianat. Ini hanya masalah kereta yang datang terlalu cepat”.

Dasar perempuan bodoh! Kereta ini hanya datang lima menit lebih cepat dari jadwal. Aku ragu lelaki itu akan datang meskipun kamu menunggunya lebih lama lagi; setahun, dua tahun, seumur hidup!!

“Aku yakin dia takkan pernah mengingkari asa yang pernah kita buat”.

Mana buktinya? Aku pribadi lebih menganggap semua asa itu hanyalah omong kosong belaka…

“Itu bukan omong kosong. Kita berdua tahu ada bahasa yang bisa disampaikan lebih dari sekedar kata. Kata hanyalah penegas, yang kami butuhkan hanya rasa”.

Tapi rupanya rasa tak cukup kuat untuk membawa dia kesini, kan?

“Mungkin, dia punya alasan…”.

‘Mungkin’ adalah satu kata yang paling ingin aku dengar. Kelihatannya kau sangat tidak yakin kali ini.

“Dan hal yang paling ingin aku yakini adalah membuatmu diam.”

Kau tak perlu menyuruhku diam, nona. Lelaki itu sendiri yang telah membuat dirinya diam. Kau juga sama saja. Diam adalah bentuk komunikasi yang paling aneh menurutku.

“Sudahlah, aku lelah…”

Lelah pada apa? Lelah karna asa yang telah kau buat?!

“Kumohon diamlah, kau membuatku ingin menangis”.

Menangis saja. Hidup ini indah. Kau bisa menangis sepuas-puasnya.

“DIAM!!”

Aku mempererat cengkraman liontin berbentuk hati pada genggaman. Ujungnya yang runcing menusuk tanganku. Tapi aku tak peduli. Apa saja kulakukan agar suara dalam kepalaku berhenti mengoceh, dan tampaknya usaha itu berhasil dengan menghasilkan sedikit efek samping; rasa perih ini menjadi dobel: di hati dan juga di telapak tangan.

Lalu samar-samar aku mendengar lagu One Last Cry yang berasal dari salah satu hp penumpang. Rupanya dia menjadikan lagu itu sebagai nada deringnya. 

One last cry before I leave it all behind
I gotta put you out of my mind this time
Stop living a lie.. I guess I'm down to my last cry…
 

“Ah, lagu yang sangat membantu”, ujarku geram.

Kualihkan rasa perih ini dengan mengamati petak-petak kaca jendela kereta, berharap pemandangan di luar sana bisa menghiburku. Namun rupanya lagi-lagi aku keliru. Hujan yang deras, kereta yang bergerak cepat, ditambah dengan kaca yang kotor dan berembun membuat satu-satunya hal yang kuharap bisa menghiburku terlihat kabur dan tak jelas. Aku malah berharap hujan turun dalam gerbong kereta yang aku tumpangi, agar aku bisa menangis sepuas-puasnya dan tak ada orang yang bertanya kenapa.

Menit berlalu. Kereta semakin bergerak cepat ke arah utara. Warna kelabu masih bergelayut pada mega menumpahkan hujan deras yang mengetuk-ngetuk jendela dan atap kereta; seolah alam pun ingin melukiskan perasaan yang sedang aku alami sekarang. Dalam pakaian yang masih basah kuyup, tubuh yang menggigil, mata yang sembap dan hati yang memerah pedih, aku berbisik lirih: “hujan, sampaikan salam rinduku padanya”.


Tut... Tut.. Gejes Gejes. 


**

Bandung, Sabtu dini hari

10 April 2010

02:00 AM

-kamar-


Trimakasih untuk orang-orang yang telah menginspirasi:
Brian Mc Knight untuk lirik lagu One Last Cry nya.
Extreme untuk More Than Words nya
Sapardi Djoko Darmono atas puisi indahnya: “Dalam Diriku” dan “Pada Suatu Pagi”.
Untuk orang-orang yang pernah berbagi cerita secara langsung ataupun tidak langsung, nta ucapkan cup cup emuah emuah.. ^^


PS:  Pernah juga dipublikasikan di oase kompas

Sunday, 14 March 2010

ASA




Untaian baru terjalin disetiap gerak asa
mengikatkan pada hati yang telah rapuh,
perih...
luka oleh tanya.

Hanya tinggal menunggu
p e c a h ...










broken already. and i need something to stick them out..











..that's tape, if you don't know


Akulah aku yang terkoyak pula berdarah,
terjebak oleh mimpi dan realita;
tak bisa lagi membedakan

mengguncang Iman,
nyaris...

...and once I see you smile, I'll let you go by.








butterfly



**
Bandung 14.03.10
dibawah selimut, diatas kasur
04:10

-freakin' dreamer-


Saturday, 20 February 2010

DESPERATE




i wish desperately, babe
that you were here
'cause i was in pain and
don't know how to make them go
if you're not here

i need you desperately, babe
to wipe the tears from my eyes
to feel the smile on my face
'cause you are the only one
who can make my pain away

but you have gone, babe
and i cannot find a way
how to make all this pain away

maybe i gotta take a bath
wish they'd be washed away,
away, and far far away
flowin' down into the ditch
passing throu' the firth, goin' to the beach

drowning them into the sea
drowning you into the sea
drowning me into the sea

'cause i need you, babe
i need you desperately..

**

dedicated for no one

Bandung, FEB 20, 10
11:45 pm
-bedroom-

Friday, 8 January 2010

Untuk Malam

Malam, 
Kenapa kau dingin sekali?
Kau membuatku beser, tauk!
Terpaksa aku beranjak dari tidurku
Bangunkan aku dari mimpiku
Untuk pergi ke kamar mandi
Hanya untuk merasakan dingin lagi


Malam, 
Kenapa kau begitu dingin?
Sungguh, kau membuatku bersin-bersin!
dan bila aku tak bisa lagi kembali terlelap,
Besok kau akan membuatku pening
Ooh.. sungguh aku tak ingin sakit lagi
Tak enak rasanya!
Tak pernahkah kau rasakan itu, malam?


Malam,
Biarkan aku kembali ke dalam dekap mimpi
Karna tak ada yang lebih buruk dari rasa dingin ini
Meskipun kadang mimpi menghantui,
Namun itu lebih baik dari dingin yang seperti mati


Malam, 
Tahukah kau mengapa aku begitu ingin bersama mimpi?
Karna mimpi mempunyai satu hal yang pasti:
Ia tak pernah khianat!
Yang buruk pun aku takkan menolak
Karnanya ku ‘kan berkata,
“Bukankah itu hanya mimpi?”


Malam, 
Biarkan aku bersama mimpi,
yang mungkin takkan pernah lagi kembali,
Untuk menikmati sang mentari
Tak ada lagi.. Hanya sunyi


Malam,
Aku ingin bersama mimpi


**

Bandung, 08 Januari 2009
Malam, dingin, sunyi, bersin
2:29 a.m
Kamar

Monday, 4 January 2010

PERAHU KERTAS (BOOK REVIEW)


Judul: Perahu Kertas
Penulis: Dewi 'Dee' Lestari
Harga: Rp. 69.000
Rating: ***** (RECOMENDED TO READ!!)


Peringatan: Tulisan ini akan membeberkan sebagian cerita dari buku. Jangan baca 
book review ini jika kalian lebih suka menemukan sendiri kejutan-kejutan ceritanya di dalam buku.. :)


Kugy, seorang cewek penghayal yang memiliki cita-cita menjadi juru dongeng dan kegemarannya adalah menghanyutkan perahu kertas yang berisikan pesan-pesan kepada Neptunus, di sungai manapun yang dapat ia temukan. Keenan, seorang cowok yang gemar sekali melukis dan tak ada lagi yang diinginkannya didunia ini selain menjadi pelukis. Namun keinginan ini ditentang oleh ayahnya sendiri yang menginginkan ia menjadi penerus pimpinan perusahaan yang telah dibangun oleh ayahnya sejak lama. Kugy dan Keenan adalah lakon utama dalam cerita ini.

Mereka berdua dipertemukan oleh sahabat Kugy, Noni dan Eko, dimana Eko adalah sepupu dari Keenan. Mereka berempat kuliah di universitas yang sama di Bandung. Acara rutin yang selalu digelar oleh mereka berempat membuat keduanya--Kugy dan Keenan--merasakan perasaan suka satu sama lain. Keenan, yang pada akhirnya mengetahui bahwa Kugy sudah punya pacar, entah mengapa malah berusaha menjauhi Kugy.

Permasalahan mulai timbul ketika Noni dan Eko berniat mencomblangkan Keenan pada sepupunya Noni, bernama Wanda. Kugy, yang tidak bisa jujur pada kedua sahabatnya atas perasaan sukanya terhadap Keenan, merasa tersisihkan atas program percomblangan mereka. Ketika akhirnya percomblangan itu berhasil, Kugy secara perlahan dan pasti menjauhi mereka. Kugy mulai menyibukkan diri dengan mendaftar menjadi guru sukarelawan disebuah sekolah darurat yang dinamakan Sakola Alit. Ia juga selalu mengambil SP (Semester Pendek), sehingga tak ada waktu lagi baginya untuk bertemu sahabat-sahabatnya, dan juga Keenan. Kesibukan itupun yang membuat Kugy akhirnya harus kehilangan pacarnya, Ojos. Semenjak saat itu, kepribadiannya berubah drastis dan ia lebih suka menutup diri.

Sementara Kugy mulai menarik diri dari para sahabatnya, impian Keenan akhirnya terwujud melalui Wanda. Wanda yang seorang kurator di museum ternama di Jakarta tertarik pada lukisan Keenan dan mendorongnya untuk mengikuti pameran.

Pameran terlaksana. Lukisan Keenan laku terjual tiga. Dan Keenan pun memutuskan untuk berhenti kuliah di jurusan Manajemen dan akan menghidupi dirinya sendiri dari melukis. Ayahnya yang tidak setuju dengan itu, membiarkan Keenan pergi dari rumah, membawa keputusannya dan cita-citanya, dengan satu konsekuensi: Ayahnya tidak akan lagi membiayai sepeserpun untuk hidup Keenan.

Keenan semakin merasa berhutang budi pada Wanda. Cinta yang seharusnya tidak terjadipun dipaksakan ada. Namun, kebohongan terungkap. Keenan sudah tak bisa lagi membiarkan dirinya terus-menerus berpura-pura bahwa ia mencintai Wanda ketika ia menemukan suatu kebenaran, bahwa lukisan-lukisannya yang laku terjual ternyata hanya dibeli oleh satu orang saja: Wanda.

Keenan, yang merasa terhina dengan semua ini akhirnya pergi meninggalkan Wanda. Dengan kejadian ini, Keenan akhirnya menyadari, bahwa ia hanyalah seorang pelukis yang masih mentah, tak ada satupun karyanya yang diminati oleh kolektor lukisan. Dengan keadaan begitu terpuruk, kurus kering karna kurang makan, Keenan meluncur ke Bali, meninggalkan kehidupannya di Bandung, dan juga keluarganya di Jakarta. Ia tinggal di Bali bersama sahabat ibunya waktu dulu, yang juga seorang pelukis.

Di Bali, Keenan kembali melukis melalui coretan-coretan dongeng yang ditorehkan Kugy pada sebuah buku yang pernah dititpkan padanya. Lukisannya begitu hidup, sehingga ada seorang kolektor yang tertarik pada lukisannya. Disana pun ia bertemu dengan seorang gadis Bali, dan selama dua tahun ia tinggal di Bali, ia--pada akhirnya--bisa melupakan Kugy.

Kugy yang selalu mengambil SP membuat ia lebih cepat lulus dari teman-teman seangkatannya. Ia berhasil lulus dengan nilai terbaik. Semuanya tak lepas dari dukungan Eko, sahabatnya dan sekaligus pacarnya Noni. Mengetahui kedekataan antara Eko dan Kugy, hubungan antara Noni dan Kugy menjadi semakin tidak baik. Kugy pun akhirnya kembali ke Jakarta dan mendapatkan pekerjaan sebagai 
co writer.

Kugy akhirnya menemukan pangerannya, dan kali ini bukan hanya dalam mimpi. Ketika Kugy bertemu Remi, bosnya sendiri, ia tahu bahwa ia telah keliru mencintai, memimpikan dan mengharapkan Keenan. Dan Kugy pun telah menambatkan hatinya pada Remi.

Lalu, benarkah Keenan tidak ditakdirkan untuk Kugy, pun sebaliknya? Apakah kebodohan mereka atas kebungkaman perasaannya selama ini akan terus berlanjut?? Apakah pada akhirnya Kugy bisa meraih cita-citanya menjadi juru dongeng?



Well, baca aja sendiri yah.. toh saya juga belum rampung bacanya.. :D
Rating bintang lima yang saya kasih memang tidak mengada-ada, karna Perahu Kertas ini buku ke-8 yang bisa membuat saya melek dengan sukses sampe lewat dari tengah malam, dan akan terus nekat untuk melek kalau saja besoknya tidak harus bangun pagi-pagi buat nyuci motor yang dekilnya udah audubileh.. ^^
Buku sebelumnya yang mampu menyihir saya hingga enggan menutup buku diraih oleh Harry Potter seri 1-7.

Selamat ya teh Dewi.. :)
Buku Perahu Kertas ini merupakan karya Anda yang pertama saya baca, saya jadi penasaran sama karya-karnya Anda berikutnya.. (huhu,, perlu menjadwalkan waktu dan juga uang buat pergi ke Toga Mas, lumayan biar dapet diskon.. :DV)

Dan, komentar pertama saya terhadap buku ini adalah,

Bukunya bagus banget!! Literatur yang bagus, dan banyak sekali petuah di dalamnya. Cerita cintanya tak pelak membuat saya nangis bombay.. dan saya pun terheran-heran sendiri, sebegitu sulitnyakah bagi seseorang untuk sekedar menyatakan tiga kata, 
ai-lop-yu, sekalipun di negeri dongeng??!!


Ahh.. Cinta memang aneh.. dan cinta memang tidak untuk dimengerti, tapi dirasakan.. :)


Salam,




**

Bandung, 04 Januari 2010
10:47
Kantor